Kamis, Januari 24, 2008

Inikah Rasanya (part II)

inikah rasanya..

ketika rasa itu menghantui..

inikah rasanya..
ketika rasa tulus dipersembahkan..

inikah rasanya..
ketika semua harus terpatahkan..


Kau peluk aku dengan penelitian tentang Stress

kau cium aku dengan rasa rindu dan ketakutan tentang waktu yang udah hampir habis

Terima kasih, my half spirit of life..

you are charmed



miss u


Ku dengar suara indah itu....Sonia



Aku, malam ni bahagia banget....!!!
ku dengar suara indahmu Sonia...
juga Oneta...

Jalan pelangi yang kita rajut bersama
semoga membawa kita ke surga...

Met malam Sonia
met malam Oneta

my little girl
my big girl

hehehehe

tunggu,.....
segera terbit !!
Tiga soneta cinta untuk oneta..

Minggu, Januari 20, 2008

do it ...dengan baik dan benar


Ku ikuti jalanmu....
jalan kupu-kupu..

kan ku lewati pelangi dan seluruh rambu yang ada


Kemanapun pergimu
aku ikuti pelangimu

pelangi cantikmu


and we did it again...

miss u like.....
....yu kita lakukan dengan baik dan benar.....

Lets sing...







She shark...
she shark... they think thing they arm.. they arm me ray up that thanks seek or nyam hook, Hup...!!! lie loudy thank up!! (dinyanyikan seperti cicak-cicak didinding)

Kita bisa belajar dari cicak...
bersyukur dengan apa yang kita dapat hari ini...

dan mengingat
"Lain Syakartum laaziidannakum, wa lain kafartum inna adzaabi lasyadiid"


tuhan!!
bukan aku kufur nikmat
bukan aku ingkar kuasamu
namun, untuk dialah aku rewel dan banyak minta
demi ketulusan hati, cinta dan sayang ini...berkati kami
jadikan kami satu laiknya yusuf dan julaikha

hei, kamu!!
kalaupun aku tak ada, bukan berarti aku hilang..
bukankah doa lebih suci dari tubuhku atau ragaku

share?
iya...bila sudah waktunya pasti bisa
jadikan perjuangan yang patah..
atau limpahkan pada airmata, yang tak pernah protes
terobati sayang ...Insya Allah

Kamis, Januari 17, 2008

"Tuh Kaan, beneeer Kata aku juga"


Sarosid Said About You:

MasyaAlloh.... sungguh indah ciptaan-Mu Ya Alloh..

Emang,....dan makin indah saat ini,

Onetta,

aku emang ga salah
dan biarkan aku di jalan kupu-kupu
meniti pelangi indahmu

dan biarkan aku mengejamu
dengan bahasaku

terlalu banyak meminta maaf
hingga kau muak (mungkin)


dan lihat POSTku kemarin2

cuma satu kau harus Percaya
........................
aku luruh
dihadapmu

ga bdaya...


i swear!!!

Lagi Kangen Rumah.....(daripada airmata mending blogria)




































































Nasya ama Kautsar Rajeev Muhammad Minannurrachman


Eh BTW, Ponaanku gemesin semua khan..
dan cerdas cerdas lhoo


(Soale aku lagi kangen ma si kecil Sonia, ga tahu kamu kapan nemuin kita)

My Mom...!!! i love you amah


amah ama ponakanku

Tiffany Hasna Faiqoh (Nasya)
Si Bocah Jenius

Putri dari Alhafidzoh Yayuk Yuhanidz Zulkifliy

Meet me @home

merenungi rumah..........
merenungi amah.....(ibu)

kangeeeeeeen
ingin menangis dipangkumu

ternyata,

anakmu disini tak banyak merubah dan berubah

amah...!!!

kalau abah masih ada.....

Maafkan aku !!!!!

hanya dengan ini aku menyembunyikan diriku
dari dunia (harapanmu Abah)

dan aku yakin kau bertemu senyum tuhan disana.....

Jalan Kupu-kupu


U rite...
this lifes so short

bahkan kau yang begitu dahsyat dan meledak-ledak
begitu indah berubah, makin indahlah dirimu,
kau itu agung dimataku
dan biarkan begitu saja

ku ingin meniti jalan kupu-kupu yang begitu berwarna
seperti pelangi, pada lengkung cakrawala

walau kau sendiri hopeless sama aku
namun ijinkan aku menerima syaratmu

MENITI JALAN KUPU-KUPU

Minggu, Januari 13, 2008

Jumat, Januari 11, 2008

11 01 2008 23 : 40 : 33

Demi ketulusan cintanya..jgn biarkan sesuatu yg buruk tjd..ya Allah..

Amiiiin, malam ini ku dengar lagi kata yang pernah hilang,
ku dengar lagi sesuatu yang pernah raib.....

sayang........cinta...

oh god...............

dengan segala ketakutan, keraguan, protes, amarah, senyum yang kau miliki

aku mencintaimu or dasi O

still, will, never stop (always you say)


still
will
never stop
always (you said)

miss you.....

french kiss, so short like a slide, but.......
never better like this

pliiis tuhan,
bless her,
me..

so bless our life......4eva

Kamis, Januari 10, 2008

belum ada judul (ga ada teory yang tepat dimatamu)

(aku maunya nyata.. maunya secara fisik... ngga mau yang khayalan ngga mau yang cuma bayang-bayang,
Bahkan sekedar kata-kata jadi tak bermakna) (You at 11:35)


Tuhan.....
kenapa lagi ini...



unicorn...sampaein...maaf
sampul bukuku lusuh....


Selasa, Januari 08, 2008

Penawar dahaga, nafas buatan, dan spirit baru...!!



Aku sendiri..
terhempas gelombang
bagai debu ditengah laut
tak pula tempat ku bertambat
hanyut terbawa angkuh laut


Kau datang, menolongku
mendamparkanku ke pantai indah
hingga kau memberiku nafas baru




Terima kasih... sayang..!! (ups)

Hi.....little girl...!!



SEPERTI APA SIH, REAKSI EMOSI PADA BAYI

Jangan salah, bayi pun bisa menunjukkan emosinya. Entah yang baik maupun tidak. Asalkan ditangani dengan baik, reaksi emosi yang jelek tak bakalan menetap hingga besar. Sering, kan, melihat bayi menangis kala ia lapar. Sebelum diberikan susu, ia tak akan berhenti menangis, bahkan tambah keras. Tapi bila kebutuhannya segera dipenuhi, akan berhenti tangisnya.

Nah, menangis pada bayi, selain sebagai salah satu bentuk komunikasi prabicara untuk memberitahukan kebutuhan/keinginannya, juga untuk menunjukkan reaksi emosinya terhadap suatu keadaan yang tak menyenangkan. Reaksi emosi bayi yang demikian, menurut Dra. Dewi Mariana Thaib, sebetulnya masih wajar, karena si bayi bereaksi terhadap suatu keadaan yang tak menyenangkan, yaitu lapar. “Hanya saja, kalau reaksinya berlebihan, semisal menangis terus, meski sudah diberikan susu, berarti ada sesuatu pada dirinya. Apakah dia sakit atau ada suatu kelainan pada sarafnya,” terang psikolog dari RS Bunda, Jakarta ini.

Sangat penting bagi orang tua untuk mengetahui dan mengenal reaksi emosi bayinya. Sebab, reaksi emosinya ini akan berpengaruh pula nantinya pada kehidupan si anak, terutama pada penyesuaian pribadi dan sosialnya. “Di usia satu tahun pertama ini, bayi sedang beradaptasi dengan udara, makanan, dan lingkungan sekitarnya. Di usia ini pulalah emosinya mulai berkembang.” Itulah mengapa, orang tua harus memperhatikan betul kebutuhan fisik dan mentalnya, sampai sekecil apa pun.

DAPAT DIBEDAKAN

Pada awalnya, terang Dewi lebih lanjut, saat lahir, reaksi emosi bayi masih sederhana, yaitu hanya mengungkapkan emosi kesenangan dan ketidaksenangan. “Ia akan bereaksi senang bila kebutuhan menyusunya terpenuhi, dengan mengeluarkan suara yang tampak puas. Sebaliknya, ia akan bereaksi tak senang dengan menangis bila popoknya basah.”

Yang pasti, pada bulan-bulan pertama, ia tak memperlihatkan reaksi secara jelas, yang menyatakan keadaan emosinya yang spesifik. Misal, marah. Semua rasa ketidaksenangan akan diekspresikan dengan tangisan. “Nah, pada bulan-bulan pertama ini, respon orang tua terhadap bayi pun akan berpengaruh nantinya. Misal, jika pemberian susunya terlambat sementara bayi sangat lapar atau popoknya basah didiamkan saja, maka bayi akan merasa tak nyaman. Meski dia hanya bisa bereaksi dengan menangis, tapi bibit-bibit emosi rasa kecewa dan marah mulai timbul.”

Mulai usia dua bulan bayi bisa bereaksi tersenyum bila dirinya merasa senang atau gembira. Usia tiga bulan mulai bisa bereaksi dengan mengeluarkan bunyi-bunyi yang mengungkapkan kekesalan, bila dirinya kesal atau marah, semisal, dia tak bisa menggapai mainannya. Kadang juga diungkapkan dengan tangisan dan jeritan.

Usia 6-9 bulan sudah mengenal rasa takut. Bukankah saat itu ia sudah mengenal orang-orang di sekitarnya? Hingga, kalau ia ditinggal oleh orang tuanya, ia akan merasa takut dan mulai mengeluarkan suara-suara ketakutan atau menangis.

“Pokoknya, makin usia bayi meningkat, reaksi emosinya makin dapat dibedakan dan bertambah. Sebab, sejalan dengan bertambahnya umur dan semakin matangnya sistem saraf serta ototnya, bayi pun mengembangkan berbagai reaksi emosinya.” Misal, kalau di usia 2 bulan emosi kegembiraannya diungkapkan dengan tersenyum saja, maka makin lama dia bisa mengekspresikan kegembiraannya dengan mengeluarkan suara-suara ataupun tertawa kala diajak bicara oleh orang tuanya. Bahkan, ketika dia sudah bisa jalan dan berlari, bila ada timbul rasa gembira, dia bisa melonjak-lonjak atau berlari-lari.

Demikian pula dengan emosi takut. Biasanya bayi takut dengan kamar gelap, binatang, berada sendirian, serta orang yang asing baginya. Mungkin awalnya, kalau takut ia hanya bereaksi dengan menangis. Seolah dirinya tak berdaya dan seperti meminta tolong. Makin bertambah usia dan motoriknya pun berkembang, ia bisa bersembunyi di balik tubuh ibunya atau memeluk ibunya, menarik selimut untuk menutupi wajahnya, atau berlari menghindar dari sesuatu yang membuatnya takut.

Akan halnya rasa marah, misal, di usia 6 ­9 bulan, kala bayi sudah bisa melempar benda atau menghentak-hentak kakinya, ketika emosi marahnya terangsang, bisa saja reaksinya dengan melempar. Ketika reaksi tersebut dirasa menyenangkan dan dapat memuaskan emosinya, maka akan diulang kembali. “Nah, untuk mengetahui apakah si bayi memang betul-betul dalam emosi marah atau hanya ingin mencoba-coba melempar benda dalam arti dirinya sedang bereksplorasi, tentunya orang tua harus melihat, apakah memang ada kebutuhannya yang tak dipenuhi atau ada sesuatu yang membuatnya marah ataukah tidak.”

MASIH BISA DIUBAH

Jadi, orang tua harus mengetahui dan mengenal reaksi emosi bayinya, entah yang baik maupun tidak. Jangan sampai, reaksi emosi yang jelek berlanjut sampai si bayi besar. Pasalnya, nanti anak akan belajar menggunakan reaksi ini sebagai alat untuk mencapai tujuannya. Apalagi di masa-masa emosi sulit, yaitu usia 0 hingga balita. Bukankah tak jarang kita lihat, anak kecil yang kalau marah tiduran di lantai, duduk menghentak kaki, memukul, atau melempar segala macam benda?

“Sebetulnya, bila baru berusia sampai setahun, emosi bayi masih bisa berubah karena baru muncul dan baru akan berkembang,” kata Dewi. Itulah mengapa, orang tua harus tetap waspada dengan emosi bayinya. “Jika ada reaksi emosinya yang kurang baik, paling tidak, kita bisa menekannya atau meminimalkannya.” Dengan kata lain, orang tua harus melatih pengendalian diri anak sejak dini.

Tapi melatihnya harus dengan konsekuen, lo. Misal, bila bayi ingin minum susu dan menangis tak sabar, maka ibu harus segera meresponnya. Kalaupun harus membuatkan dulu susu botol, maka buatlah di dekat si bayi sambil mengajaknya bicara. Misal, “Iya, sabar, ya, sayang. Ini Ibu sedang buatkan susunya. Ibu tahu, kok, kalau Adek lapar.”

Bila si bayi sudah bisa merangkak dan kita lihat tampaknya dia kesal karena sulit menggapai mainan yang diinginkan, maka kita bantu untuk memudahkan dengan cara mainannya didekatkan. Ketika dia sudah bisa meraihnya, kita beri pujian, “Hore! Pintar anak Mama. Capek, ya? Ayo, kita duduk dulu.”

Begitu juga kalau si bayi sudah mulai banyak motoriknya, seperti bisa jalan atau lari. Bila reaksi marahnya dengan cara fisik, seperti menendang, melempar, atau memukul, maka kita harus selalu memberi pengertian. “Kalau kamu marah, tidak boleh seperti itu. Nanti kaki kamu jadi sakit kalau menendang kursi itu. Kenapa kamu marah? Bilang, dong, sama Ibu.” Jadi, anak dilatih untuk dapat mengendalikan fisiknya. Hingga nantinya kalaupun dia marah, mungkin tak sampai bereaksi berbahaya dengan fisiknya. Mungkin hanya mimik mukanya saja yang tampak memerah.

Menurut Dewi, biasanya seiring usia bertambah, reaksi emosi dengan menggunakan gerak fisik/otot makin berkurang. Apalagi ketika anak sudah bisa bicara, maka reaksi emosinya akan diwujudkan dengan reaksi bahasa yang meningkat.

JANGAN BANYAK LARANG

Namun, dalam melatih atau mendidik emosi anak, disarankan tak banyak larangan karena akan menimbulkan rasa takut pada anak. Misal, “Adek, jangan main ke situ, ada kecoa, lo. Nanti digigit!”

Sebetulnya, papar Dewi, usia bayi belum menyadari ada tidaknya bahaya bagi dirinya, tapi karena mimik muka ibunya dan nada suaranya menakutkan, maka mengkondisikan si bayi akan rasa takut. “Larangan boleh saja kalau memang ada yang membahayakan. Kalau tidak, sebaiknya dihindari.” Namun, dalam memberitahukannya harus dengan bahasa dan mimik muka yang baik.

Yang jelas, bila sejak bayi dilatih pengendalian emosi dengan baik, maka reaksi emosinya bisa ditanganinya dengan baik pula. Meski mungkin sifat jeleknya tetap ada, tapi tak terlalu menonjol. “Jadi, ini merupakan tindak pencegahan pula dari reaksi emosi negatif yang tak diinginkan.”

Ingat, lo, bila tak sejak dini kita melatihnya, maka akan sulit mengubahnya ketika anak bertambah usianya. Bahkan mungkin saja reaksi emosi tersebut akan menetap sampai si anak dewasa. Tentunya kita tak menginginkannya demikian, kan, Bu-Pak?



Scrapping...sebuah plagiasi perenungan..















You are a clever one, in my eyes!
Too much wasting time for my love life.. (but have to, thats love life)
Wasting my energy..(that a struggle)
Wasting my concentration..(change your mind)
But what did I get ? only suffer and pain...(try to read that and learn it so calm)

I know I have to rearrange my life..(have to)
relief my pain..(excellent)
back to life..with new target..values..(with sure programme i think)

No more tears...(just as a friend, to give you a space to think)
No more crazyness..(so think it before)
No more unvaluable things..(but we can learn side by side)
No more wasting time for stupid things..(such as...)
No more miss-communication-relations with husband..( i dont know)
No more bad temper-poor and nothing-somebody else's husband with ugly moustache man..(zzzzzzzz)

Because I am good!
I am success!
I am smart!
I can be everything I want to be! (that you are my gal)

I'm not that bad! That bitchy! That low! That stupid! That cheap! That small!
I have the power to change!!! (SAY IT AGAIN AND YOULL GET YOURS)

I AM GOOD !!! (Par Excellent, great)

Semua masalah pasti ada jawabnya
bahkan semua soal matematika pasti ada jawabnya, entah ilmuwan telah menemukan atau belum rumusnya....hanya satu...kau harus percaya!!

(gak ada yang negatif dari diri kamu..
meskipun kamu cerita segala hal tentang kejelekan, kebodohan, kekurangan yang pernah kamu alami..
buatku kamu adalah segala hal positif.
jangan pernah lagi merasa kurang atau minder..
kamu sangat berharga dengan segala kekuranganmu..)

Senin, Januari 07, 2008

Maaf Cinta..!!!!


















Peribahasa inggris kuno mengatakan Dalam setiap maaf itu selalu terdapat cinta, ada dua pengertian dalam kalimat tersebut, yaitu maaf dan cinta, dua kata yang sangat mudah untuk diucapkan namun sangat susah untuk diimplementasikan dalam hidup sehari-hari, betap sulit memaknai kalimat tadi..

seorang motivator AS pada tahun 1960an, Rebecca Beard, dalam bukunya Everyman's search mengatakan ketika kita mengatakan mampu mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri, semestinya kita juga mampu dan berani meminta maaf atas perbuatan yang tidak kita kehendaki dan perkataan yang seharusnya tidak diucapkan kepada orang lain...

So ...
Maaf Cinta..!!

kuharap segala cintamu dan maafmu...

sampai kapanpun..

I still hate monday (eh ga lagi ding!!)


















aku masih benci hari senin nett!!
(udah ga lagi)

entah kapan kamu tahu betapa aku menghormatimu, mencintaimu dengan segala amarahmu, segala ketakutanmu, keagunganmu.....

semoga kau ga akan membuka ruang ini....(ah udah buka,....aku ga nyesel, cuma malu..)

karena aku menyimpannya demi cinta suciku....

i still hate monday...
karena suaramu belum menyapaku...


kangeen

peluk ciummu

(Ku peluk dengan kehangatan kata-kata
kucium dengan indah puisi
hingga kau terbata
dan terbariskan irama sukma)

dll

Hari ini, aku kaaaangeeeen banged suaramu





pliiis....kenapa aku begitu terbuai dengan senyum itu ya?
jadi kangen, jadi pengen dipeluknya, diciumnya....lagi seperti kemarin-kemarin..
tapi ya udah lah...

sampai kapan aku menjadi orang gagu.....?
dan sampai kapan ku pendam semua ini...


Si kecil,...pengen denger suaranya lagi

Neng, ndut, atau apalah...
intinya,

KAAAANGEEEEENNNN

OMG...waddyathinkomme